INTOLERANSI LAKTOSA

INTOLERANSI LAKTOSA

OLEH :
Hardiman

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES MATARAM
JURUSAN GIZI
2012/2013

Kata pengantar

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa k“arena atas rahmat dan karunia-Nya makalah yang berjudul “Makalah Intoleransi Laktosa” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Anatomi dan Fisiologi. Keberhasilan penulisan makalah ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan yang masih perlu diperbaiki, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini , sehingga dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Mataram,4 Desember 2012

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
1.2 TUJUAN
1.3 RUMUSAN MASALAH 5
BAB II PEMBAHASAN 6
2.1 DEFINISI 6
2.2 ETIOLOGI 7
3.3 TERAPI DIIT 8
BAB III PENUTUP 10
1. KESIMPULAN 10
2. SARAN 10
DAFTAR PUSTAKA 11

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Susu merupakan sumber nutrien yang penting untuk pertumbuhan bayi mamalia termasuk manusia, yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral dan vitamin. Laktosa merupakan salah satunya karbohidrat dalam susu mamalia, merupakan disakarida yang terdiri dari gabungan monosakarida : glukosa dan galaktosa.
Laktosa hanya sel – sel kelenjar mamma pada masa menyusui melalui reaksi antara glukosa dan galaktosa uridin difosfat dengan bantuan lactose synthetase.
Kadar laktosa dalam susu sangat bervariasi antang ra satu mamalia dengan yang lain. ASI mengandung 7 % laktosa, sedangkan susu sapi hanya mengandung 4 %.
Dalam makalah ini akan di uraikan secara ringkas definisi, etiologi, terapi diit yang meliputi tujuan diit syarat diit, dan interaksi obat dengan gizi.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui definisi, etiologi, terapi diit yang meliputi tujuan diit syarat diit, dan interaksi obat dengan gizi dari interaksi laktosa.

1.3 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan intoleransi laktosa?
2. Bagaimana etiologi dari intoleransi laktosa?
3. Bagaimana terapi diit dari intoleransi lakstosa?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Sebelum kita membahas mengenai Lactosa Intolerance, ada baiknya kita kenali dulu apa itu lactose. Lactose atau laktosa merupakan komponen karbohidrat berupa gula disakarida yang terkandung secara alami dalam berbagai jenis susu, termasuk ASI, dan juga produk-produk olahan susu (dairy product) lainnya seperti mentega, keju, krim, es krim, whey, yogurt, dan sebagainya.
Intoleransi laktosa adalah kondisi seseorang di mana tidak mampu mencerna laktosa, yaitu bentuk gula yang berasal dari susu. Ketidakmampuan ini disebabkan oleh kurangnya atau tidak mampunya tubuh memproduksi lactase, yaitu salah satu enzim pencernaan yang diproduksi oleh sel – sel di usus kecil yang bertugas memecah gula susu menjadi bentuk yang lebih mudah untuk diserap ke dalam tubuh.
Lactose Intolerance terjadi ketika seseorang mengalami defisiensi atau kekurangan jumlah enzim laktase di dalam pencernaannya. Jika hal ini terjadi, laktosa tidak dapat diserap dengan baik dan akan masuk ke dalam kolon atau usus besar. Di dalam kolon, bakteri-bakteri pencernaan melakukan fermentasi terhadap laktosa, menghasilkan asam dan gas. Hal inilah yang menyebabkan seorang lactose intolerant kemudian merasakan sakit perut setelah mengonsumsi laktosa.

2.2 Etiologi
Beberapa gejala yang umum dirasakan oleh penderita lactose intolerance di antaranya berupa rasa sakit di bagian perut, kram, kembung, mual, muntah, dan diare.
Gejala-gejala ini muncul 30 menit sampai 2 jam setelah mengonsumsi susu atau produk susu lainnya.
Intoleransi laktosa terjadi karena adanya defisiensi enzim laktose dalam brush border usus halus.
Sampai sekarang dikenal 3 bentuk dari defisiensi laktose, yaitu :
1. Defisiensi laktose yang diwariskan
Defisiensi laktose yang diwariskan terjadi pada individu dengan genotif homozygot resesif. Kejadian jarang yaitu 1 perseratus ribu penduduk, sehingga sering sekali tidak dibicarakan, sedangkan defisiensi laktosa primer dan sekunder lebih sering terjadi.
2. Defisiensi laktose primer
Defisiensi laktose primer atau defisiensi lactase awitan lambat, terjadi sebagai akibat induksi sintesis laktose menurun, sebab laktose merupakan enzim yang sintesisnya dapat diinduksi. Ketidaksukaan minum susu mungkin merugikan, sebab tidak ada induksi enzim laktose.
3. Defisiensi laktose sekunder.
Defisiensi laktose sekunder akibat sekunder dari kerusakan lumen usus, yang mengurangi atau menghancurkan enzim lactase. Keadaan ini juga menyertai malabsorbsi dapat terjadi pada kerusakan mukosa usus halus, misalnya akibat infeksi. Kejadian ini sering kali dijumpai pada anak diare setelah minum susu botol. Tentunya laktose tidak defisiensi lagi, bila kerusakan mukosa usus telah membaik dan infeksi telah teratasi.

2.3 Terapi Diit
Terapi diit yang dilakukan pada seseorang penderita lactose intolerance antara lain :
• Batasi jumlah konsumsi susu, jangan langsung banyak tetapi mulailah dengan ukuran satu cangkir.
• Konsumsi susu bersamaan dengan makanan lain, misalnya sereal.
• Susu dalam keadaan panas, dipercaya akan lebih mudah ditoleransi dibandingkan susu dingin.
• Konsumsi susu lactose-free, misalnya susu kedelai.
• Konsumsi yogurt prebiotik yang mengandung kultur bakteri aktif (probiotik). Probiotik adalah mikroorganisme non-patogen yang memiliki enzim laktase intraselular sehingga dapat membantu mencerna laktosa di dalam usus kita. Beberapa contoh probiotik di antaranya Lactobacillus, Bifidobacterium, dan Saccharomyces.
• Konsumsi suplemen yang mengandung laktase sebagai penambah enzim laktase alami tubuh. Namun jangan lupa konsultasikan terlebih dahulu dengan professional kesehatan sebelum memutuskan untuk mengonsumsi suplemen tersebut.
Terapi diit tersebut bertujuan untuk memperbaiki kondisi pasien (status gizi) dari pasien tersebut, dengan memberikan makanan sesuai dengan kebutuhan gizi untuk mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan. Hal tersebut harus memenuhi syarat tinggi kalsium, vitamin A dan D, riboflavin, serta fosfor karena asupan kalsium sangatlah penting bagi tubuh, terutama yang berasal dari susu dan produk olahan susu. Terlebih lagi, bagi seorang lactose intolerant dimana konsumsi susu dan produk susu sangat terbatas, asupan kalsium sangatlah harus diperhatikan. Meraka juga harus tetap memerlukan asupan nutrisi yang berasal dari susu.

BAB III
PENUTUP
 Kesimpulan
Intoleransi laktosa adalah kondisi seseorang dimana tidak mampu mencerna laktosa, yaitu bentuk gula yang berasal dari susu. Lactose Intolerance terjadi ketika seseorang mengalami defisiensi atau kekurangan jumlah enzim laktase di dalam pencernaannya. Gejala yang umum dirasakan oleh penderita lactose intolerance di antaranya berupa rasa sakit di bagian perut, kram, kembung, mual, muntah, dan diare.
 Saran
Bagi seorang lactose intolerant dimana konsumsi susu dan produk susu sangat terbata. Meraka juga harus tetap memerlukan asupan nutrisi yang berasal dari susu. Oleh karena para penderita laktosa intolerance hendaknya mengkonsumsi susu dengan laktosa-free misalnya susu kedelai.

Daftar Pustaka

Silvia A.Price, dkk. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
Newman Dorlan W.A. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
Dokter Hartono Andry, SpGK. 2012. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
I Ketut Laba Sumarjiana. 2011. Lactosa Intolerance. Sumber URL : http://jurnalwidyatech.files.wordpress.com/2012/02/lactose-intolerance.pdf diakses pada tanggal 4 desember 2012.
Yuditya Marina. 2012. Lactosa Intolerance. Sumber URL : http://apotekerbercerita.wordpress.com/2012/01/19/lactose-intolerance/ diakses pada tanggal 4 Desember 2012.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s